Home » » Kalianda sudah Aman ? Damai ?

Kalianda sudah Aman ? Damai ?

Written By Rei Kendo on 02/11/2012 | 2:26 pm

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Sang Newbie ingin berbagi....

Topik terkini masih tentang Perang Suku di Kalianda, yg berawal dari 27 Oktober, dan bentrok besar pada hari Sumpah Pemuda. Alhamdulillah, saat ini bentrok tidak terdengar lagi, tak ada penyerangan dari masing-masing pihak. Tapi ini bukan berarti AMAN keadaan memang sudah konfdusif, namun warga masih harus siaga dan berhati-hati.

Bentrok Kalianda

Komisi III DPR yakin kondisi semakin kondusif
Wakil Ketua Komisi III DPR Aziz Syamsuddin berharap Pemprov Lampung dan Pemkab Lampung Selatan dapat menjamin warga Desa Balinuraga yang berada dipengungsian untuk segera kembali ke desa mereka.   Apalagi, pihak TNI dan Polri sudah menyanggupi untuk menjaga keamanan di sekitar lokasi konflik.

 "Tentu semua berharap agar para pengungsi dapat dipulangkan dalam minggu depan. Ada jaminan juga dari aparat keamanan. Sekarang tinggal tunggu langkah Pemprov Lampung dan Pemkab Lamsel," ujar pak Aziz.
 
bentrok antar warga di Kalianda, Lamsel bukan merupakan konflik antar suku. "Saya sendiri warga Lampung. Konflik ini bukanlah perang suku. Buktinya warga Bali di daerah lain di Lampung bisa hidup damai. Aparatur pemerintah di Lampung harus segera turun tangan. Saya yakin situasi segera kondusif,"
 
Ketua Parisada Hindu Dharma Lamsel, Made Sukintre berharap dapat segera kembali ke Balinuraga. "Kami harap masalah segera reda. Pemerintah Pusat dan Daerah harus bertanggungjawab penuh mengembalikan kami. Jangan dibiarkan berlarut-larut,"
 
Sedangkan Ketua Komisi III Gede Pasek Suardika mengatakan “Kita mau lihat lokasi dulu. Prinsipnya pengungsi ingin kembali. Mereka tidak mau makan tidur gratis. Aspirasi ini yang harus didengar dan diupayakan,”.
Perdamaian sangat dinanti bagi mereka
  • Jero Gede Bawati (59) sudah hampir setengah abad mendiami Way Panji, Kalianda, sejak tahun 1963 lalu Jero menikmati ketenteraman tanah perantauan.
"Selama kami ada di Bali Nuraga, tidak ada kejadian-kejadian seperti ini. Baru ini-ini saja," kata Jero
Suasana tidak kondusif sejak Januari 2012 lalu, ketika peristiwa bentrok antar warga terjadi di Desa Napal, Kalianda. "Jadi tanda tanya, mengapa akhir-akhir ini jadi seperti ini, padahal masalahnya justru bisa diselesaikan kekeluargaan,"
"Dulu hutan belantara, pelan-pelan kami buka hutan jadi perkebunan. Desa-desa yang dekat dengan tempat kami tinggal saling membantu membuka hutan. Dari dulu tidak ada seperti ini, dulu harmonis, saling membantu," tuturnya.

  • Wayan Subagio (40) Kepala Dusun Bali Koga, mengaku akibat bentrokan antar warga yang beberapa kali terjadi di Kalianda dia dan warganya menjadi was-was, padahal jauh hari sebelumnya, dia hidup dalam ketentraman bersama warga lainnya.
Baik Subagio atau Jero, mereka memiliki impian sama pasca bentrok antar warga terjadi Minggu (28/10) dan Senin (29/10) lalu dan menewaskan 12 warga yang bersitegang.
"Ke depan harapan bisa tentram kembali, berdampingan membangun Lampung Selatan, dan tidak terulang lagi kejadian seperti ini,"
 "Kita maunya hidup akur, jangan seperti ada masalah kayak gini,"
"Kami cuma ingin tenang dan damai hidup di kampung sini,".

Bentrokan membuat segalanya hancur. Korban dari kedua belah pihak berjatuhan. Anak-anak tidak bisa bersekolah karena was-was dan sekolah mereka luluh lantah dirusak massa. Belum lagi nasib ribuan warga yang tidak tahu-menahu duduk persolan harus menikmati hidup di pengungsian dengan tidur beralaskan terpal dan tikar. 
Ikatan Sosial menjadi redup
Upaya damai yang diprakarsai oleh pejabat pun gagal. Fenomena itu merefleksikan kohesi atau ikatan sosial yang meredup. Penolakan berdamai disampaikan tokoh-tokoh yang menghadiri pertemuan dengan Bupati Lampung Selatan di Kalianda.
Pertemuan itu dihadiri sekitar 200 orang, terdiri dari tetua adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda, dari Kalianda dan Way Panji.
Salah satu tokoh Lampung Selatan, mendesak agar warga Balinuraga dan Sidoreno yang kini mengungsi ke Sekolah Polisi Negara di Bandar Lampung tidak dipulangkan. Kedua desa itu dinyatakan status quo.
Gagalnya ajakan berdamai itu membuat situasi keamanan di beberapa desa di Lampung Selatan rawan meski sudah 4.000 personel keamanan dikerahkan.
Puluhan rumah di sisi jalan utama Sidoreno dan Balinuraga dibakar dan tinggal puing. Asap masih mengepul di beberapa rumah meski pertikaian terakhir terjadi Senin lalu.
Puluhan mobil polisi dan tentara berderet di sepanjang jalan desa itu, juga banyak pos keamanan ditemukan. Rumah yang ditinggalkan pemiliknya dihuni petugas keamanan. Di sisi jalan terdapat sejumlah spanduk kecil berisi ajakan damai, seperti ”Bhinneka Tunggal Ika”, ”Satu Nusa Satu Bangsa”, dan ”Satu Nusa Satu Bangsa Satu Tanah Air Indonesia”.
Pihak kepolisian telah meningkatkan pengamanan di titik-titik terjadinya konflik komunal itu. Akibat pertikaian komunal selama dua hari, 28-29 Oktober, 14 orang tewas. Insiden itu melibatkan warga etnis lokal di Desa Agom, dan etnis Bali di Desa Balinuraga dan Sidoreno, tetapi kemudian meluas.

Ketua Permuakhian (Persaudaraan) Lima Marga Pesisir Lampung Selatan M Zahri menyatakan setuju berdamai, tetapi dengan syarat dimasukkan kata-kata ”sanksi tegas dan mengikat” kepada pemicu konflik.

”Masyarakat Bali membuka diri untuk menyelesaikan masalah,”
Upaya Perdamaian Perang Suku

Sejumlah perwakilan tokoh adat dari massa yang terlibat konflik horizontal di Kabupaten Lampung Selatan, bersepakat menempuh jalan damai yang dimediasi oleh pihak kepolisian setempat.
"Saya mohon, mari kita cari jalan damai agar masalah ini tidak berlanjut lagi," kata salah satu tokoh adat Bali
 "Dengan tulus kami merasa kecewa, sedih sekali dengan kejadian ini," .
"Walau bagaimana pun juga keadaannya, kami tidak dapat pergi kemana-mana, Lampung sudah menjadi ibu pertiwi kami," 
Mereka berharap, situasi kembali tenang dan damai, anak-anak bisa sekolah dan warga bisa beraktifitas kembali seperti sediakala tanpa diselimuti rasa takut . Ketua Himpunan Lima Adat Saibatin Lampung Selatan, Tumenggung Rajasa, mengatakan pihaknya pun menginginkan penyelesaian untuk perdamaian atas kasus bentrokan tersebut. 
"Kami pun ingin hidup damai dan tenteram secara berdampingan tanpa ada permusuhan," 
Terkait perjanjian damai yang ditawarkan oleh pihak kepolisian hendaknya juga mengikat dengan memasukan sangsi tegas bagi yang melanggar kesepakatan itu. 
"Pada bentrok yang sebelumnya di Sidomulyo sudah ada kesepakatan damai namun masih terulang, oleh karena itu pada perjanjian ini harus ada sangsi hukum tegas bagi yang melanggarnya,". 
Pertemuan dalam rangkai mediasi antartokoh adat setempat untuk menuju perdamaian warga itu berlangsung di Markas Polres Lampung Selatan. Dalam mediasi itu, Kapolda menawarkan surat perjanjian perdamaian bersama dengan tanda tangan tokoh adat masing-masing.
Namun surat ini belum ditandatangani, mengingat belum memasukan poin yang menyatakan akan memberi sanksi hukum bagi yang melanggar perjanjian tersebut. Tokoh adat Lampung juga meminta untuk menunggu situasi kembali kodusif, agar perjanjian yang dihasilkan benar-benar sesuai kesadaran hati nurani bukan hanya tanda tangan semata

Semoga Kalianda kembali Damai.....

Rei Gamerz on Cyber
Share this article :
 
Copyright © 2013. Rei Gamerz - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger